Kepingan Yang Tak Kan Terlupakan…

Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan sebuah email…Email dari sahabat yang sudah sangat lama tidak kujumpai, Yach sudah sangat lama, Sejak lulus SMP dulu….

Isi Email itu sebuah Pesan Singkat :

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Fadly, ne puisinya. dalemnya ga cuma punya Fa doank, tapi da juga yang punya nak 3.2 laennya (unknown, coz ga da nama author-nya, mungkin juga punya Fa…) n laen2 (ga banyak)…
wasslm
,”

Pesan yang sangat singak kemudian di lampirakan sebuah file. Isi file tersebuat adalah kumpulan sebuah puisi. Lalu apa hubungannya puisi thu ma aq?? Read the rest of this entry »

Sakit Itu…Hampir saja membuatku putus asa…

Hampir 1 Bulan aku hanya bisa terpaku di rumah….Tanpa aktivitas…meninggalkan semua pekerjaan yg tetap saja masih menumpuk…

Apa daya…Aq Hanya bisa pasrah…Pekerjaan yg aku cintai dan segala aktivitas yg membuat ku bersemangat..semua harus ku tinggalkan..Meskipun hanya untuk sementara waktu…

Tapi itu sangat menyiksa bagiku…Hanya dengan bekerja aku bisa bahagia…Sekali lagy aku hanya bisa pasrah…

Yach….Penyakit itu telah hinggap dan melekat di organku…meskipun skrg sudah tidak begitu terasa,tapi iya akan kembali….aq sangat putus asa…

Aku tidak bs lagy seperti dulu…..tidak bs lagy bersemangat dan giat seperti yg dulu biasanya aku lakukan…Dya telah membatasi Aktivitasku…aq tak lagy Sebebas Dulu…

Tapi Aku tetap bahagia…..

Banyak orang yang selalu mendukungku..Orang tua, Teman2, Sahabat2ku…Semuanya selalu bs membuat ku tersenyum lagy…mereka bisa mencerahkan kehidupanku yg sempat kelam…

Seorang sahabat terbaik berkata padaku,” Be strong And Be Weak is a Choice, so what’s your choice pal??”

Dan Sekarang aku memilih untuk tetap kuat, layaknya karang yag selalu d deru ombak dan gelombang, namun tetap kokoh di tengah lautan….

Trima kasih Sahabat2ku….kalian Akan Selalu Dihatiku…

Bekerjalah Duhai Saudaraku….

Sahabat Abu Hurairah RA berkata, ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, seseorang yang keluar mencari kayu bakar (lalu hasilnya dijual) untuk bersedekah dan menghindari ketergantungan kepada manusia, itu lebih baik dari seseorang yang meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau pun ditolak. Karena sesungguhnya tangan yang di atas (memberi) itu lebih baik daripada tangan di bawah (meminta).” (HR Muslim).

Ada dua hikmah yang dapat dipetik dari cuplikan hadis di atas. Pertama, keutamaan bekerja. Islam tidak memandang jenis pekerjaan, tapi lebih menitikberatkan pada semangat bekerja, etos kerja, dan kegigihan untuk mengais rezeki yang halal. Karena memang jenis pekerjaan seseorang itu berbeda-beda.

Dalam sejarah para Nabi, kita temukan contoh keanekaragaman jenis pekerjaan mereka. Nabi Nuh sebagai ahli perkayuan, Nabi Daud sebagai Read the rest of this entry »

Kutemukan Belahan Jiwaku…

Cerita ini bersumber dari seorang Muslimah….

Rahasia jodoh, rejeki dan kematian adalah mutlak milik Allah Swt, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahuinya kecuali sang Pemilik diri kita. Hal tersebut telah terpatri erat dalam pikiranku sejak lewat dua tahun lalu. Mendorongku untuk terus berikhtiar dan selalu berkhusnudzon kepada Allah Azza wa Jalla tentang kapan saatnya tiba menemukan belahan jiwaku.

Dalam proses pencarian diusiaku yang ketiga-puluh-tiga, beberapa teman dekat mulai dijajaki, ta’aruf pun dilakukan. Dalam proses ta’aruf, salah seorang sempat melontarkan ide tentang pernikahan dan rencana khitbah. Namun herannya, hati ini kok emoh dan tetap tidak tergerak untuk memberikan jawaban pasti. Hey, what’s going on with me? Bukankah aku sedang dikejar usia yang terus merambat menua? Bukankah aku sedang dalam proses pencarian belahan jiwa? Bahkan seorang sahabat sempat berkomentar miring tentang keengganan aku memberikan respon kepada salah satu dari mereka. Si sahabat mengatakan bahwa aku adalah type ‘pemilih’ yang lebih suka jodoh yang tampan, kaya raya dan baik hati, dan lainnya yang serba super dan wah. Read the rest of this entry »

Muliakanlah Ibu Kita….(Ibu Karenamu Aku bisa begini)

Dikisahkan, saat sedang melaksanakan thawaf, Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu, ”Kenapa pundakmu itu?” Jawab anak muda itu, ”Ya Rasulullah, saya dari Yaman. Saya mempunyai seorang ibu yang sudah uzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika shalat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya.”

Kemudian anak muda itu bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?” Nabi SAW sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu beliau bersabda, ”Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak yang saleh, anak yang berbakti. Tapi anakku, ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu.”

Kisah di atas memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa kasih sayang dan cinta seorang ibu kepada anaknya tidak akan terbalas dan tidak akan ternilai dengan apa pun. Perjuangan seorang ibu untuk seorang anak sangat luar biasa. Ketulusan dan kesabarannya dalam menjaga seorang anak sejak dari kandungan hingga anak tersebut dewasa dan bahkan hingga si anak sudah berkeluarga tidak akan tergantikan. Seorang ibu rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk kehidupan sang anak. Bahkan, untaian doanya tidak pernah terputus untuk seorang anak. Mereka selalu berharap dan memohon kepada Allah agar anaknya menjadi anak-anak yang saleh dan salehah.

Inilah beberapa alasan yang menyebabkan kita sebagai seorang anak wajib hukumnya untuk berbakti dan memuliakannya. Secara khusus, Allah pun telah memerintahkan kita untuk berbakti dan memuliakannya sebagaimana yang difirmankan dalam surat Luqman. Firman-Nya, ”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS 31: 14).

Rasulullah pun menegaskan dengan mengatakan tiga kali menyebut nama ibu dan kemudian bapak untuk orang-orang yang perlu kita perhatikan. Dalan riwayat lainnya, Rasulullah melarang seorang sahabat untuk berjihad di jalan Allah dan memerintahkan untuk menjaga ibunya yang masih hidup. Utusan Allah itu bersabda, ”Jika demikian tinggallah bersamanya karena surga berada di bawah kakinya.” (HR Ibnu Majah dan Nasai).

Kini, di saat ibu kita masih hidup, sudahkah kita memuliakan dan menyayanginya dengan sepenuh hati? Sudahkah kita memohon maaf atas kealpaan kita kepadanya? Dan, apabila ibu kita telah lebih dulu menghadap Allah, seringkah kita memohonkan ampun untuknya? Sudahkah kita menjalankan amanat dan wasiatnya? Mari, mumpung Allah masih memberikan waktu, kita berbuat baik dan memuliakan ibu dan bapak kita. Doakan mereka dengan doa, ”Wahai Tuhanku, ampunilah kedua orang tuaku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Allahumma Amiin. Wallahu a’lam bishawab.

Khibbukha Fillah……(Mencintai karena allah)

Membicarakan cinta tak dapat dilepaskan dengan motif dan tujuan pelakunya. Sesuai arti katanya, cinta adalah perasaan hati dalam menyenangi sesuatu. Dalam bahasa Arab, cinta sering disebut dengan kata hubb. Mencintai sesuatu berarti sama dengan menyenanginya. Cinta adalah salah satu sifat fitri (alami) yang memang Allah SWT anugerahkan kepada manusia. Dengan cinta, manusia satu dan lainnya dapat membina hubungan dengan harmonis. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah SWT memiliki 100 rahmat kasih sayang. Sebanyak 99 Ia simpan untuk hamba-hamba-Nya nanti di akhirat, sedangkan satunya Ia turunkan kepada umat manusia. Dengan hanya satu rahmat inilah, manusia satu dengan yang lainnya saling mencintai.” (HR Bukhari-Muslim).

Dengan demikian, cinta dan kasih sayang yang dimiliki manusia hakikatnya adalah bentuk anugerah tertinggi yang Allah SWT berikan. Itu artinya, cinta sesungguhnya harus dilandasi dengan keyakinan bahwa cinta itu adalah dari Allah SWT dan harus dimanfaatkan sepositif mungkin oleh manusia, semata-mata karena Allah. Dengan kata lain, mencintai manusia lain sebetulnya harus dilandasi sikap bahwa cintanya itu adalah karena Allah, sehingga cinta yang ditimbulkan akan selalu berada dalam jalur yang sudah Allah SWT gariskan, bukan cinta buta yang hanya memperturutkan hawa nafsu rendah. Mencintai seseorang karena Allah SWT akan mengantarkan seseorang pada satu level, di mana Allah SWT melimpahkan cinta abadi-Nya yang tak terkira. Rasulullah SAW pernah bercerita kepada Abu Hurairah, ”Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berniat mengunjungi temannya dalam sebuah kampung.

Dalam perjalanan, ia bertemu dengan malaikat yang sengaja Allah turunkan untuk menanyakan tujuannya. Laki-laki itu menjawab, ia ingin mengunjungi salah satu temannya di sebuah kampung. Malaikat bertanya lagi tentang alasan kunjungan itu, apakah karena temannya itu memiliki satu jasa berharga yang harus dibalas atau tidak. Dengan tegas, laki-laki itu menjawab ia tidak memiliki alasan selain bahwa kunjungannya itu adalah karena cintanya kepada temannya, cinta yang dilandasi semata-mata karena Allah SWT. Malaikat itu akhirnya memberi tahu kepada laki-laki itu bahwa ia adalah utusan Allah untuk menyampaikan kabar gembira bahwa laki-laki itu dijamin akan dicintai Allah selamanya, dengan sebab cintanya pada temannya itu.” (HR Muslim).

Cinta sesama manusia hanya karena Allah, bukan karena alasan lain, itulah cikal bakal cinta abadi yang Allah SWT siapkan di akhirat kelak. Cinta model ini pulalah yang akan menjadi naungannya nanti di hari kiamat. Satu hari yang tidak ada naungan lagi selain naungan yang Allah berikan kepada manusia. Rasulullah SAW bersabda, ”Pada hari kiamat nanti Allah SWT akan berseru, ‘Mana orang-orang yang saling mencintai hanya karena Aku? Pada hari kiamat yang tidak ada naungan ini, Aku akan memberikan naungan-Ku pada mereka semua’.” (HR Muslim). Dengan cinta yang dilandasi keyakinan seperti inilah, umat manusia akan dapat mewujudkan kedamaian dan keharmonisan di antara sesama.

Kematian Terindah…..

”Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (kematiannya), maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mungundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mengajukannya.” (QS Al-A’raf: 34).

Banyak orang merasa ngeri menghadapi kematian. Padahal, kematian adalah perkara gaib yang sering kita saksikan dan pasti menjumpai kita. Persoalannya bukan kapan kematian itu datang. Akan tetapi, apa yang telah kita siapkan untuk bekal kematian itu, sehingga kematian yang menjemput tanpa memberi kabar menjadi saat terindah karena pada saat itu kita akan berjumpa dengan Allah SWT.

Kematian yang dianggap mengerikan bagi kebanyakan manusia, justru menjadi saat terindah lagi mengharukan bagi orang bertakwa. Di saat ruhnya keluar dari jasad, saat itu Allah SWT memangilnya dengan lembut, ”Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka, masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(QS Al-Fajr: 27-30).

Itulah kematian yang indah. Untuk menemui kematian yang indah itu, Allah SWT berfirman, ”Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kehawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al-A’raf: 35).

Untuk mencapai derajat ketakwaan, Allah SWT mengingatkan dengan firman-Nya, ”Sesungguhnya tiap-tiap kamu ada (malaikat) yang mengawasi pekerjaanmu. Yang diridhai di sisi Allah dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakaan.” (QS Al-Infithaar: 10-12).

Karena senantiasa diawasi, maka kita harus menjaga diri untuk tidak berbuat dosa, baik secara sembunyi maupun terang-terangan dan segera bertaubat jika melakukan khilaf dan dosa. ”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasanya.” (QS Az-Zalzalah: 7-8).

Sesungguhnya Allah SWT tidak ridha pada kematian seseorang, kecuali matinya dalam keadaan berserah diri (muslim). ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim).” (QS Ali-Imron: 102).

Kematian bagi seorang Muslim bukanlah hal yang mengkhawatirkan. Justru kematian akan menjadi saat yang ditunggu dan dirindu karena ingin bersegera melihat Tuhan yang selama ini ia sembah, Tuhan yang menciptakan dirinya, dan Tuhan yang memberinya rezeki.(M.Zaenuri)

Tips Menulis untuk Sobat Muda

Sobat muda, janganlah kamu menulis apa-apa yang kamu sendiri tidak pahami. Ada sebagian orang menulis istilah-istilah yang membuat para pembacanya “pusing” tujuh keliling. Baru membaca beberapa paragraf awal saja sudah tidak mengenakkan, apalagi membacanya semuanya, mau muntah saja!

 

Tulislah apa yang kamu pahami, terutama apa yang kamu rasakan. Tulislah apa-apa yang ada dalam benakmu, dengarkan “suara itu berkata”, sebagai penuntun untuk membuat karya tulismu lebih hidup. Prof. Stephen Hawking – peraih nobel fisika – dalam bukunya yang terkenal, A Brief History of Time, berusaha membuat pembacanya memahami isi bukunya dengan cara mengurangi istilah-istilah fisika yang rumit. Oleh karenanya, buku itu menjadi asyik di baca banyak orang (baca: best seller), tidak terkecuali mereka yang bukan ahli fisika.

 

Berkonsentrasilah dalam menulis. Karena hal itu akan membantumu menulis tentang tema yang kamu kehendaki. Ada sebagian orang menulis, tetapi tulisannya berkembang kemana-mana. Imajinasinya liar dan bebas. Sehingga tema yang diharapkan semula tidak pernah muncul dalam tulisannya. Namun, jangan sampai kamu dibuat tegang olehnya. Menulis itu harus lebih santai dari apa pun. Menulis itu flow (mengalir dan dinikmati). Teruslah menulis. Jangan berhenti sebelum benar-benar menyelesaikan karya tulismu. Archimedes menyebutnya “Eureka!”, sedangkan Bobby De Porter menyebutnya “Aha!”.

 

Tulislah dengan lincah. Jangan kamu hiraukan – pada tahap awal menulis – kata: “Berhenti! Lihatlah tulisanmu banyak yang salah; ejaannya ngga bener, lihat dong paragrafnya! Dan sebagainya.” Jangan kamu terlalu memedulikan kata-kata itu. Ini belum saatnya kamu mengevaluasi tulisanmu. Yang kamu perlukan adalah, kamu harus menyelesaikan tulisanmu, secepat mungkin!

 

Jika kamu sudah menyelesaikan tulisanmu, barulah kamu mulai mengevaluasi karya tulismu. Kamu juga bisa menambah data-data tambahan agar tulisanmu menjadi lebih asyik jika dibaca. Oleh karena itu, tidaklah cukup mengevaluasi hanya satu kali saja. Endapkan dulu tulisanmu (masa inkubasi). Beri jeda untuk membaca: buku, majalah, atau koran. Evaluasi lagi tulisanmu. Begitupun seterusnya. Jika kamu merasa cukup puas, kamu bisa menghentikan proses itu, dan kamu dapat mempublikasikan tulisanmu. Lihatlah nanti, tulisanmu akan sangat berkesan dalam hatimu. Dan lebih dari itu, sangat disukai banyak orang. Selamat menulis!