Bekerjalah Duhai Saudaraku….

Sahabat Abu Hurairah RA berkata, ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, seseorang yang keluar mencari kayu bakar (lalu hasilnya dijual) untuk bersedekah dan menghindari ketergantungan kepada manusia, itu lebih baik dari seseorang yang meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau pun ditolak. Karena sesungguhnya tangan yang di atas (memberi) itu lebih baik daripada tangan di bawah (meminta).” (HR Muslim).

Ada dua hikmah yang dapat dipetik dari cuplikan hadis di atas. Pertama, keutamaan bekerja. Islam tidak memandang jenis pekerjaan, tapi lebih menitikberatkan pada semangat bekerja, etos kerja, dan kegigihan untuk mengais rezeki yang halal. Karena memang jenis pekerjaan seseorang itu berbeda-beda.

Dalam sejarah para Nabi, kita temukan contoh keanekaragaman jenis pekerjaan mereka. Nabi Nuh sebagai ahli perkayuan, Nabi Daud sebagai ahli logam (QS Al-Anbiya (21): 80), Nabi Idris sebagai ahli jahit, Nabi Syu’aib sebagai ahli pertanian, Nabi Yusuf sebagai menteri hasil bumi, Nabi Musa sebagai buruh dan ahli bangunan, dan Nabi Muhammad SAW sebagai pengusaha dan penggembala.

Meski begitu, semangat dakwah ilallah para Nabi sedikitpun tidak pernah padam. Justru mereka menjadikan pekerjaan sebagai simbol kemuliaan (al-izzah) dan penopang dakwah. Bukan sebaliknya, menjadikan dakwah sebagai lahan pekerjaan untuk mencari dan mengumpulkan harta.

Simak jawaban para Nabi ketika dakwah mereka diklaim bermotif materi. ”Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (QS Asy-Syu’ara (26): 164).

Kedua, tercelanya mengemis. Perbuatan ini adalah cermin kemalasan. Dan Islam sangat mengecam kemalasan. Rasulullah SAW selalu berdoa agar dijauhkan dari sikap malas (al-kasal). Islam berulang kali menganjurkan umatnya agar giat bekerja dan terus meningkatkan etos kerja, baik sebagai buruh, karyawan, pegawai negeri, atau wiraswasta. ”Dan Katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah (9): 105).

Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengatakan, ”Ada dua cara mendapatkan harta. Pertama, keberuntungan tanpa harus memeras keringat, seperti warisan atau menemukan harta karun. Kedua, bekerja baik berdagang, buruh, dan lainnya. Islam mengecam keras tindakan yang ketiga yaitu, meminta-minta kecuali terdesak.” Ujar Rasulullah SAW, ”Tidaklah seseorang senantiasa mengemis kepada orang lain, kecuali pada hari kiamat wajah mereka tiada berdaging.” (HR Muslim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: